Polda Bengkulu Tegaskan Akan Tindak Penyalahgunaan Obat Batuk

Dering24

Dering24

EDUKASINews

Polda Bengkulu Tegaskan Akan Tindak Penyalahgunaan Obat Batuk

Polda Bengkulu Tegaskan Akan Tindak Penyalahgunaan Obat Batuk 1

DERING24.COM BENGKULU  –  Dextromethorphan Hbr adalah obat batuk golongan antitusif atau penekan batuk yang umum digunakan untuk mengobati batuk akibat pilek dan flu. Meskipun dinyatakan aman sebagai obat batuk, namun telah lama zat ini dikenal juga sebagai obat yang sering disalahgunakan untuk mabuk atau nge-fly. Seberapa bahaya Dextromethorphan Hbr yang disalahgunakan?

Cara kerja dextromethorphan Hbr

Dextromethorphan Hbr, yang biasa dikenal dekstro atau DMP, adalah obat yang bekerja di sistem saraf pusat dengan meningkatkan ambang rangsang refleks batuk. Bila dikonsumsi dalam dosis yang sesuai, zat ini berkhasiat untuk menekan batuk dan menurunkan demam. Dextromethorphan bekerja pada otak, bukan pada saluran pernapasan seperti beberapa jenis obat batuk lainnya.

Pada dosis tinggi, efek DMP dapat menyerupai obat-obatan terlarang, seperti Phencyclidine (PCP) dan ketamin. Keduanya adalah obat bius yang digunakan untuk keperluan medis seperti operasi, namun karena efeknya yang dapat menyebabkan halusinasi dan euforia, obat tersebut sering disalahgunakan penggunaannya.

Anak remaja seringkali menjadi korban rasa penasaran mereka akan efek obat-obatan terlarang, seperti PCP dan Ketamin. Obat batuk seperti dekstro tidak sulit didapatkan dan dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter.

Oleh karena itu, peluang untuk disalahgunakan sulit dikontrol. Selain itu, efek euforia atau halusinasi dari dosis berlebihan obat ini tidaklah sebanding dengan efek sampingnya, yaitu bisa menyebabkan keracunan yang mengarah pada kematian.

Bahaya penyalahgunaan dextromethorphan Hbr

Terdapat beberapa tahap keracunan DMP, tergantung pada seberapa banyak obat yang diminum. Efek yang umum terjadi adalah kepala menjadi ringan hingga ada sensasi “keluar dari tubuh”, terjadi halusinasi, paranoid, dan perilaku agresif. Efek tersebut dapat bertahan dari 30 menit hingga 6 jam setelah obat diminum.

Selepas efek-efek tersebut muncul, tubuh kemudian akan mengalami demam tinggi yang dapat membahayakan nyawa. Dekstro dalam obat batuk juga biasanya bukan merupakan komposisi tunggal. Obat batuk tersebut biasanya digabungkan dengan zat aktif lain, seperti pseudoefedrin yang berfungsi sebagai dekongestan, asetaminofen sebagai penghilang rasa sakit, dan antihistamin untuk meredakan bersin sebagai bentuk alergi dari pilek.

Jika semua zat tersebut dikonsumsi dalam dosis tinggi secara bersamaan maka dapat mengakibatkan:

  • Tekanan darah tinggi
  • Potensi kerusakan hati
  • Gangguan sistem saraf pusat dan masalah jantung.

Efek paling fatal dari penyalahgunaan dekstro adalah kematian. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia, telah dibuktikan bahwa keracunan dekstro menjadi penyebab dua kasus korban mati. Tidak hanya itu, ada banyak berita lainnya yang mengabarkan korban tewas akibat dosis yang berlebihan dari obat ini.

Pun jika beruntung tidak sampai meninggal, efek samping penyalahgunaan Dekstro ini tak kalah mengerikan. Sebuah kasus yang terjadi di Indonesia 2013 lalu mengabarkan bahwa beberapa remaja menjadi gila permanen karena konsumsi dextromethorphan secara berlebihan.

Hal tersebut senada dengan laporan dari sebuah jurnal psikiatri dari University of Western Ontario, Inggris, yang mengungkapkan efek dekstro dapat menyebabkan penurunan fungsi otak, gangguan suasana hati, dan mengalami keadaan manik akut. Dari hasil tersebut dapat diartikan dextromethorphan dosis tinggi yang dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kegilaan.

Regulasi pemerintah terkait dextromethorphan Hbr

Banyaknya kasus penyalahgunaan dextromethorphan Hbr yang terjadi membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai lembaga yang berwenang terhadap regulasi peredaran obat di Indonesia, mengeluarkan Peraturan BPOM nomor 28 tahun 2018 tentang Pedoman Pengelolaan Obat-Obat Tertentu yang Sering Disalahgunakan.

DMP resmi masuk dalam golongan OOT (Obat-Obat Tertentu) bersama lima obat lainnya yang sudah masuk lebih dulu, yakni tramadol, triheksifenidil, klorpromazin, amitriptilin, dan haloperidol.

Efek dari adanya peraturan tersebut maka importasi maupun distribusi dari bahan baku maupun obat jadi DMP diawasi dengan ketat. Dalam pelaksanannya, apoteker maupun penjual obat ini dilarang untuk menjual dalam jumlah banyak kepada pembeli perorangan. Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan BPOM ini akan dikenai sanksi administratif dari peringatan, pencabutan izin edar, hingga penutupan sarana.

Yang perlu diperhatikan orangtua

Karena anak remaja masih menjadi korban terbanyak dari penyalahgunaan obat ini, peran orangtua dalam mengedukasi dan mengawasi anak mereka sangat dibutuhkan. Ada beberapa hal yang dapat orangtua lakukan dalam upaya pencegahan tersebut, di antaranya:

  • Beli hanya saat Anda membutuhkannya dan pastikan memiliki resep dokter saat membelinya
  • Jika digunakan sebagai obat batuk, simpan di tempat yang aman dari jangkauan remaja dan anak kecil.
  • Tetapkan aturan yang jelas bahwa anak Anda tidak boleh minum obat tanpa sepengetahuan Anda
  • Perhatikan jumlah obat yang berkurang dalam jumlah cukup banyak
  • Lindungi anak-anak Anda dari situs web yang mendorong penyalahgunaan DMP
  • Ketahui di mana anak Anda menghabiskan waktu dan dengan siapa mereka menghabiskannya
  • Bersikap proaktif dengan berdiskusi tentang efek negatif dari penyalahgunaan dextromethorphan (dan penyalahgunaan narkoba pada umumnya) pada anak karena ini adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah penyalahgunaan obat-obatan pada remaja.

Efek euforia dan halusinasi yang dirasa menyenangkan tentu hanya bersifat sementara, tetapi bahaya efek samping dari dextromethorphan Hbr yang disalahgunakan dapat bertahan selamanya, dilansir dari sehatq.com. Tribratanewsbengkulu.com sudah pernah memuat artikel terkait obat batuk yang sering disalahgunakan tersebut dengan judul “Penyalahgunaan Obat Batuk Untuk Teler” posted date : September 11, 2019.

Polda Bengkulu dan jajaran sangat berkomitmen untuk melakukan penegakan hukum terhadap kegiatan peredaran obat illegal tersebut sebagai bagian dari upaya untuk melindungi generasi muda, karena tidak hanya merusak secara fisik dan kesehatan, tapi juga dapat merusak karakter anak bangsa.

Terkait Hal Tersebut, Kabid Humas Polda Bengkulu menegaskan akan memberikan tindakan tegas kepada siapapun yang menyalahgunakan obat batuk sebagai saran untuk mabuk – mabukkan baik itu kepada penjual maupun pembeli dikarenakan efek dari obat tersebut dapat mengarah ke tindakan kriminal.

” Kita akan jerat dengan UU No 36 tahun 2009 karena merusak kesehatan. Bisa juga terkena Undang-Undang Perlindungan Konsumen. ” Tegas Kabid Humas Polda Bengkulu.

Penulis : Ipda Gunawan Paur Infodok Subbid PID Bidhumas Polda Bengkulu

Comment here