Memahami Wabah, Epidemi dan Pandemi

Dering24

Dering24

EDUKASINASIONAL

Memahami Wabah, Epidemi dan Pandemi

Memahami Wabah, Epidemi dan Pandemi 1

DERING24.COM,  Jakarta – Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada 11 Maret 2020 menetapkan virus corona terbaru SARS Cov-2 atau Coronavirus Disease (Covid-19) sebagai pandemi global, tingkat penyebarannya kian meluas. Tercatat ada155 negara terpapar. Mereka yang terkonfirmasi positif, hingga pukul 15.30 WIB pada 18 Maret 2020, sudah mendekati 200 ribu orang.

Dari mereka yang terpapar,  yang berhasil sembuh sebanyak 81.960 orang dan meninggal 7.954 (setara 3,7 persen). Skala wabah ini  menuntut kesiapsiagaan semua negara. Masalah sampar ini jadi persoalan global yang berimbas pada persoalan sosial ekonomi dan politik setiap negara. Pun Indonesia sedang mengalami tantangan dalam mengendalikan Covid-19 ini. Sampai Rabu 18 Maret 2020 ini, jumlah terkonfirmasi positif mencapai 227, 11 orang sembuh dan pasien meninggal mencapai 19 orang.

Adapun sebaran wilayah Tanah Air yang melaporkan kasus konfirmasi terjangkit Covid-19 adalah DKI Jakarta, Jawa Barat (Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Depok, Cirebon, Bandung, Purwakarta, Cianjur), Jawa Tengah (Solo, Magelang), Kalimantan Barat (Pontianak), Sulawesi Utara (Manado), Bali, Banten (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan), DI Yogyakarta (Sleman), Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan Sumatera Utara.

Sedangkan, penyebaran virus corona melalui transmisi lokal terdeteksi di DKI Jakarta, Jawa Barat (Kabupaten Bekasi, Kota Depok), Jawa Tengah (Solo), dan Banten (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang)

WHO dalam sejarahnya hanya pernah mengumumkan dua pandemi – untuk influenza pada tahun 1918 dan Influenza H1N1 (flu babi) di tahun 2009. Para epidemiologis menyebut virus corona sebagai sebuah pandemi ketika wabahnya terus bergerak ke luar Tiongkok.

Rebecca S.B. Fischer, Asisten Profesor Epidemiologi, Universitas Texas A&M Amerika Serikat menerangkan, pandemi adalah tingkat tertinggi untuk darurat kesehatan global dan menunjukkan bahwa wabah yang meluas ini memengaruhi banyak wilayah di dunia. Kendati demikian, WHO masih berharap pandemi Covid-19 ini dapat dikendalikan dampak buruknya dengan kebijakan yang cepat, terukur, dan agresif.

Penetapan resmi Covid-19 atau penyakit menular lainnya sebagai sebuah pandemi akan mendorong pemerintah, lembaga terkait, serta organisasi bantuan di seluruh dunia untuk mengubah upaya pengurungan (containment) menjadi mitigasi.

Antara Wabah, Pandemi dan Endemi

Apa yang membedakan pandemi dengan wabah dan endemi? Sebuah wabah adalah peningkatan jumlah kasus penyakit yang jelas terlihat, meski kecil, jika dibandingkan dengan jumlah “normal” yang bisa diantisipasi suatu negara atau pemerintahan.

Seperti contoh, kasus diare yang menyerang suatu daerah yang biasanya 1 kasus, kemudian berkembang menjadi 10 dalam waktu cepat, disebut wabah. Makin gamblang, ketika ada penyakit baru yang menjangkiti masyarakat kawasan tertentu dalam waktu cepat.

Epidemi adalah wabah yang menyebar di area geografis yang lebih luas. Ketika orang-orang di luar Wuhan mulai terdeteksi mengidap penyakit pneunomia akut, para ahli epidemiologi pun tahu bahwa wabah ini telah menyebar luas, yang menandakan bahwa upaya pengurungan tidaklah cukup atau sudah terlambat.

Sedangkan, pandemi sifatnya sudah meluas secara internasional. Bahkan bisa memunculkan penularan secara lokal (transmisi lokal). Tren penyebaran penyakit menular semakin tinggi risikonya di tengah kecepatan mobilitas sosial antarwarga dunia.

Penularan penyakit menular tidak mengenal batas negara, ras, agama, jabatan, orang miskin ataupun kaya, tingkat GDP negara miskin atau super power. Sekali melanda negara tanpa dikendalikan semua bisa rontok. Bisa bertahan atau mengurangi dampak kerusakan hanya bisa ditanggulangi selain persatuan negara bersangkutan bisa didukung oleh kolaborasi global atau regional.

Sejarawan Israel, Yuval Noah Harari dalam “Homo Deus, Masa Depan Umat Manusia (2018)”, menulis bahwa setelah kelaparan, musuh besar kedua kemanusiaan ialah wabah dan penyakit menular. Dalam sejarah, tercatat pembunuh massal paling efektif ialah wabah penyakit menular.

Ditulis Harari di situ, sejumlah penyakit menular telah membunuh jutaan manusia dan beberapa masih ditemui hingga sekarang. Pada abad ke-14, penyakit menular hampir saja membasmi peradaban Eropa dalam tragedi yang disebut sebagai black death (maut hitam) ketika wabah penyakit pes melanda Eropa lalu menyebar ke belahan dunia lainnya. Pembawa wabah ini ialah bakteri dalam kutu di badan tikus yang pindah ke tubuh manusia.

Enam abad kemudian merebak Flu Spanyol yang melanda seluruh dunia sejak Januari 1918 hingga Desember 1920. Virus influenza ini menelan korban nyaris 500 juta orang. Pandemi global ini pun membuat rumah-rumah sakit dibanjiri pasien, ekonomi berhenti berputar, dan kematian terjadi di mana-mana. Tak luput gelombang pandemi ini pun sampai ke Hindia Belanda sepanjang 1918-1919 dengan jumlah korban jiwa yang luar biasa. Mengutip studi Siddharth Chandra tahun 2013, dalam “Mortality from the Influenza Pandemic of 1918–19 in Indonesia”, menyebut jumlah kematian pada kisaran 1,5 juta-5 juta jiwa.

Kasus Pernapasan Gawat Mendadak atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Avian Influenza A (H7N9), Flu Babi atau Swine Flu (H1N1) hingga Covid-19 menarik perhatian dunia. Penyakit ini – disebut Emerging Infectious Diseases (EIDs) – atau Penyakit Infeksi Emerging (PIE) menjadi kekhawatiran khusus dalam kesehatan masyarakat. Bukan saja karena penyakit ini bisa menyebabkan kematian manusia dalam jumlah besar, penyakit ini juga memukul perekonomian global. Ekonomi terguncang memicu dampak sosial lebih parah lagi.

Sebagai contoh, perkiraan biaya langsung yang ditimbulkan SARS di Kanada dan negara-negara Asia adalah sekitar US$50 miliar. Selain itu, dampak dari penyakit infeksi baru ini relatif lebih besar di negara-negara berkembang yang memiliki sumber daya yang lebih sedikit. Dalam 30 tahun terakhir, telah muncul lebih dari 30 PIE. Kawasan Asia, seringkali menjadi episentrumnya.

PIE adalah penyakit yang muncul dan menyerang suatu populasi untuk pertama kalinya, atau telah ada sebelumnya namun meningkat dengan sangat cepat, baik dalam hal jumlah kasus baru di dalam suatu populasi, atau penyebarannya ke daerah geografis yang baru. Yang juga dikelompokkan dalam PIE adalah penyakit yang pernah terjadi di suatu daerah di masa lalu, kemudian menurun atau telah dikendalikan, namun kemudian dilaporkan lagi dalam jumlah yang meningkat. Kadang-kadang sebuah penyakit lama muncul dalam bentuk klinis baru, yang bisa jadi lebih parah atau fatal. Penyakit ini disebut dengan penyakit lama (re-emerging), contoh terbaru adalah chikungunya di India.

Untuk memerangi PIE maka suatu negara harus memperkuat kesiapsiagaan, surveilans, penilaian risiko, komunikasi risiko, fasilitas laboratorium dan kapasitas respons di kawasan. Dan yang juga sama pentingnya adalah membangun mitra di antara sektor kesehatan hewan, pertanian, kehutanan dan kesehatan di tingkat nasional, regional dan global.

Pengalaman Indonesia

Sebelum wabah penyakit Covid-19 melanda Tanah Air. Pemerintah sudah berpengalaman menangani berbagai wabah penyakit menular seperti SARS pada 2003, flu burung pada 2005, flu babi (swine flu) yang menjadi pandemi pada 2009, Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV) pada 2012, maupun penyebaran polio bersamaan virus ebola pada 2014 pernah terjadi hanya dalam 20 tahun terakhir.

Indonesia sudah memiliki rumah sakit rujukan penanganan penyakit infeksi seperti RS Sulianto Saroso, Jakarta maupun RS Persahabatan, Jakarta. Laboratorium untuk mengecek spesimen virus/bakteri dan pengembangan antivirus yang dikelola Balitbangkes Kemenkes, Lembaga Biologi Molekuler Eikjman, Bogor dan sejumlah pusat penelitian kesehatan universitas negeri.

Penyakit infeksi emerging dapat disebabkan oleh penyebaran virus, bakteri, dan parasit. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan telah menetapkan jenis penyakit, yang menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia seperti Pes, Kolera, Meningitis MeningokukusYellow Fever, Hanta Virus, SARS, Avian Influenza, Cacar, Ebola, Japanese EncephalitisPoliomielitis Akut, Anthrax, Virus Nipah, Tuberculosis (TB) dan Flu Burung. Sejumlah penyakit menular ini bisa ditangani oleh vaksin sejak usia dini seperti polio, flu, cacar, campak dan difteri. Semenjak 2014, WHO menyatakan Indonesia bebas polio.

Salah upaya menanggulangi penyebaran pelbagai infeksi tersebut dengan melakukan kegiatan karantina kesehatan di pintu masuk dan di luar pintu masuk negara yang meliputi kegiatan pengawasan lalu lintas orang, barang dan alat angkut dengan cepat dan tepat sesuai prosedur.

Protokol Kemenkes lainnya adalah segera meningkatkan komunikasi dengan membuat hotline khusus untuk publik. Menguatkan koordinasi dengan seluruh jajaran Dinas Kesehatan provinsi di Indonesia, seluruh rumah sakit di ibu kota provinsi dan Kantor Kesehatan Pelabuhan untuk mengambil langkah yang perlu dalam menangkal masuknya penyakit infeksi ke Indonesia.

Di samping itu, pemerintah terus menggencarkan gaya hidup sehat sebagai kunci mencegah penyakit menular. Waspadalah, sekali kena penyakit infeksi maka kasus ini berpotensi wabah lalu dapat meningkat ke epidemi dan jika tidak dihambat meluas jadi pandemi.

(**)

Comment here