EDUKASI

Komnas PA Dukung Hukuman Kebiri Pelaku Seksual Anak

images-9-5cb2795ecc528330c732f4b2

Jakarta, Dering24.com Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) mengapresiasi dan mendukung majelis hakim yang memberikan dukungan tambahan berupa kastrasi (kebiri) bagi para pelaku kejahatan seksual anak.

“Sungguh luar biasa dan cukup berhasil Pengadilan Negri (PN) Surabaya memutus hukuman tambahan atas perkara seksi” sodomi “yang dilakukan Rahmat Santoso alias Slamet (30) dengan” kastrasi “(kebiri) melalui suntik kimia,” kata Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait, Selasa (19/11/2019).

Menurut Arist, putusan majelis hakim yang meminta perkara kerusuhan seksi terhadap anak menggunakan UU RI Nomor 17 Tahun 2016 sebagai ganti primernya juga pernah terjadi di PN Sorong Papua dan PN Bangkalan Madura.

Komnas PA menerima dan mempertimbangkan PN Sorong, PN Surabaya, PN Mojokerto, Kejari Bangkalan dan Kejati Mojokerto untuk mendapat ‘Komnas Anak Award 2019’.

“Inilah bentuk penghargaan kami bagi para penegak hukum yang sangat peduli terhadap anak-anak,” ujar Arist.

Undang-Undang Nomor RI: 17 Tahun 2016 tentang Penerapan Perpu No. 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor: 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan luar biasa.

“Patut mendapat apresiasi dan penghormatan atas penerapan UU RI Nomor 17 Tahun 2016,” tegas dia.

Ia menjelaskan, Rahmat Santoso alias Selamat (30) terdakwa kasus sodomi 15 siswa di Surabaya di vonis 12 tahun penjara dan kebiri kimia selama 3 tahun.

Menurut dia, Majelis Hakim PN Surabaya membuktikan bahwa terdakwa terbukti sah dan meyakinkan telah melakukan tindak tipu muslihat atau membujuk anak atau melakukan tindakan cabul yang dilakukan pendidik atau tenaga pendidik.

Guru ekstrakurikuler pramuka di Surabaya Rahmat Santoso divonis hukuman penjara 12 tahun dan denda 100 juta rupiah dengan ketentuan persetujuan denda tidak perlu dapat diganti dengan keselamatan selama 3 bulan. Ini pun ditambah dengan tindakan kebiri kimia selama 3 tahun. Putusan ini lebih ringan dari pada keputusan Jaksa dengan hukuman 14 tahun penjara.

Arist menjelaskan, beberapa waktu lalu, menentang kebiri, juga pernah divonis majelis hakim di PN Mojokerto bagi pemangsa kejahatan seksi anak. (Ip)

Comment here