EDUKASIPEMPROV

Ketua PWM Bengkulu Sebut Monument Fatmawati Mubah “Layak Diresmikan”

WhatsApp Image 2020-01-19 at 21.19.32

DERING24.COM, Bengkulu – Menaggapi persoalan Patung atau Monument, Minggu Siang (19/01/2020) Jajaran Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Perovinsi Bengkulu beserta cabang menggelar diskusi terkait hukum membuat patung/monument yang kini sedang hangat di perbincangkan.

Ketua PWM Bengkulu, Saifullah didampingi selaku Dewan Pembina Majelis Tarjih Muhammadiyah Dr. HM Djupri M.Si secara tegas menyatakan bahwa membuat patung hukumnya mubah, dan bisa menjadi haram apabila dimaksudkan dengan tujuan syirik dan musyrik.

“Persoalan patung atua monument sebenarnya tidak ada masalah, apabila dibuat, yang jadi masalah itu niat dan tujuan dibuatnya patung tersebut, dan ini hukumnya mubah (boleh), Jadi kalau membuat patung dengan tujuan memberikan edukasi kepada masyarakat, maka hukumnya mubah dan Itu ada dalilnya. Sebagai contoh patung Jendral Sudirman yang dibuat tidak sembah atau musyrik. Intinya sepanjang tidak ada kaitannya dengan keyakinan maka tidak masalah,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Aibdi Rahmat selaku Pengurus PWM Muhammadiyah Bengkulu mengatakan, dalam sebuah hadis dengan tegas. Nabi pernah bersabda bahwa membuat patung yang menyerupai mahluk hidup dilarang dalam Islam. Sebab dinilai menandingi Allah Sang Maha Pencipta. Sebab sebagaimana yang kita tahu, pada zaman dulu patung adalah sesembahan bagi mereka dan lekat dengan ritual peribadatan.

Namun saat ini patung tidak hanya dipandang sebagai sesembahan. Lebih dari itu, patung bisa menjadi sebuah maha karya yang tak ternilai baik karena nilai sejarah atau seni yang terkandung dalam patung tersebut. Seperti patung tokoh pahlawan yang dibuat untuk memperingati jasa heroiknya terhadap negeri dan lain sebagainya.

“Jadi untuk prihal Monument Fatmawati itu hukumnya mubah (boleh), selagi itu mambuat karya sejarah atau seni, bukan untuk ritual peribadatan,”tegasnnya.

Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi Bengkulu yang diwakili Kadis Sosial, Iskandar ZO mengatakan, bahwa tujuan kita membuat Monument Ibu Fatmawati ini berlandaskan Pancasila & UUD 1945, Ini menjadi baik atau tidak baik tergantung niatnya.

“Contoh Ketika niat kita memberi berupa uang atau barang kepada anak yatim piatu, dengan niat terpanggil rasa kemanusiaan membantu sesama umat akan menjadi kebaikan, sebaliknya jika niat/tujuan kita memberi bantuan kepada anak yatim piatu untuk pamer kepada publik dengan memanggil media massa untuk di ketahui public, bahwa kita kaya raya, maka akan menjadi tidak baik/riya,”teranganya.

Sedangkan pembuatan Monument Ibu Fatmawati ini oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu itu sudah malalui kebijakan Pemerintah Pusat/Konsorsium BUMN, Pemprov Bengkulu dengan Yayasan Fatmawati,”tambahanya.

“Kita semua bersepakat bahwa Niat atau tujuan membangun Monument  ibu fatmawati yang sedang menjahit bendera merah putih adalah untuk mensosialisasikan peristiwa sejarah lepasnya bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan bangsa asing. Selama 350 tahun dan dimulai berdirinya NKRI dengan di naikanya  Bendera Merah  Putih pada tanggal 17 Agustus 1945.

“Bendera merah putih yang di rajut ibu Fatmawati ini melahirkan hukum positif yakni ketentuan pasal 35  UUD 1945 “Bendera Negara Indonesia Ialah Sang Merah Putih “. Simbol berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,”ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa Pemerintah Pusat/konsorsium BUMN &  Yayasan Fatmawati yang punya anggaran, sedangakan Pemprov Bengkulu tidak ada tujuan atau niat untuk membangun monumen ini agar di sembah masyarakat. Ia  juga mengaskan bahwa ini semata-mata konteknya hidup bernegara yakni hablum minannas, hubungan antara manusia dengan manusia, bukan hablum minallah hubungan manusia dengan Allah,”tegasnya.

Untuk diketahui, Monumen ini dibangun dengan uang negara melalui CSR BUMN, jadi ini adalah asset negara,

 Ia juga menghimbau kepada masyarakat  jangan kita merusak asset negara ini, justru harus kita pelihara dengan baik. Demikian Iskandar ZO.

(Ads)

Comment here