Guru Dipersilakan Kreatif Buat Soal Sendiri

Dering24

Dering24

EDUKASINASIONAL

Guru Dipersilakan Kreatif Buat Soal Sendiri

DERING24.COM, Jakarta – Guru dipersilakan kreatif dengan membuat soalnya sendiri, tidak menggantungkan soal bekas Ujian Nasional (UN) untuk mengetes murid-muridnya. Jadi  guru satu dengan lainnya bisa berbeda.

Anak menghadapi persoalan yang sama, jawabannya barangkali bisa berbeda dan tidak ada satu jawaban benar. Itu harus dikembangkan dan perlu dihargai, hak setiap anak untuk mendapatkan hak memberikan pendapatnya, itu yang hilang dan perlu dihidupkan di sekolah-sekolah.

“Kemerdekaan berpikir, hanya dengan itu bisa menciptakan kreatifitas dan inovasi. Kalau pikiran terkungkung administrasi, seperti bentuk rapot dan lain-lain, itu second priority. Kita tujuannya memerdekakan mereka,”  kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Totok Suprayitno pada acara Ngopi Santai Bincang Pendidikan dan Kebudayaan di FX Sudirman, Senayan, Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Disebutkan, kalau terlalu banyak patokan belenggu lagi. Kebiasaan-kebiasaan yang terlalu mengatur menciptakan belenggu-belenggu terutama di dunia kreatif. Berikan guru kepercayaan diri, bahwa bisa melakukan hal kreatif.

“Jadi guru disuruh berubah, percaya diri ditingkatkan, dibebaskan belenggu, bisa melakukan proses kreatif. Ini tidak menunggu dari pusat, tapi dari bawah, harus dimulai pembelajaran keluar sekolah, dari situ baru belajar. Ini keberanian melakukan perubahan, dan pengawas dan kepala sekolah tidak melakukan larangan-larangan yang tidak sesuai ide kemerdekaan belajar,” ujarnya.

Terkait pengawasan guru terhadap proses asesmen, survei karakter. Istilah pengawasan harus dirubah, karena pengawasan terkesan kejam. Daripada istilah pengawasan, lebih baik  menggunakan istilah lain, seperti pendamping atau  fasilitator.

“Mengawasi konotasinya negatif. Peran pengawas bisa kita arahkan lebih ke fasilitator biar guru bisa percaya diri dan bisa kreatif, tanpa takut disalahkan, kurang siap merdeka. Kita dorong, karena guru yang biasa mengikuti aturan itu perasaan takut salah mendominasi. Jadi proses pengawasan perlu dirombak pada fasilitasi mendorong pada percaya diri dan kreasi,” kata Totok.

Tujuan utamanya membuat anak-anak learning, tentu good learning dilakukan melalui good teaching. “Jadi kalau memperhatikan berbagai survei anak-anak  yang diperlukan tidak hanya kompetensi otak, tapi juga hati dan tindakan. Karakter moral sangat dibutuhkan integeritasnya. Kemampuan kolaborasi bisa dipakai dari kecerdasan otak dan lebih penting untuk kariernya, tidak hanya orang pintar dibutuhkan, tapi orang yang menghargai pendapat orang lain itu,   untuk melengkapi refleksi, kekurangan tidak hanya kepintaran, tapi moral dan prilaku yang mendorong kinerja,” ujarnya.

Ia menambahkan,  barangkali ada sekolah-sekolah atau guru-guru  yang membuat soal kurang bisa, tapi ada juga yang dipaksa menggunakan soal orang lain itu nggak mau. “Ini mau dipilih yang mana, dan  yang harus dipilih adalah mana yang lebih benar dalam proses pendidikan. benar-benar adalah guru harus mampu membuat item tesnya model asesmen sendiri, karena itu amanah guru harus mengevaluasi peserta didik. “Kalau guru tidak bisa membuat item evaluasi peserta didik, itu jelas tidak benar. Oleh karena itu diantara dua ekstrem tadi pilih jalan yang benar,” jelasnya.

“Insya Allah cukup banyak yang siap. Bagaimana sekolah ini, untuk sementara sekolah yang belum mampu dilakukan, menggunakan soal USBN  yang kemarin gak papa digunakan. Tetapi nanti harus mulai berlatih membuat item tes nya sendiri, cara evaluasi nya sendiri, dan ingat USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) tidak harus tes tulis. Jika belum bisa nggak usah nulis gggak papa, portofolio nggak papa, kan mungkin bisa nari, bisa lukis, dan lain-lain,” paparmya. .

Kalau membuat tes tertulis menggunakan soal-soal yang sudah disiapkan USBN, juga tidak apa-apa, tetapi harus dilakukan sendiri oleh guru yang melakukan. evaluasi ini. Jangan lagi dikoordinir oleh Kabupaten oleh Provinsi. Itu menjadi UN kecil lagi nanti. Nah ini harus dilakukan guru yang bersangkutan, di sekolah yang bersangkutan, tesnya menggunakan yang ada, silahkan untuk sementara. tapi nanti harus berlatih.

“Kami juga akan fasilitasi, Insya Allah dalam pengembangan yaitu untuk memfasilitasi guru berlatih membuat teks forum diantara guru untuk mendiskusikan hasil ciptaan Alat tesnya itu, supaya ada proses belajar dari guru untuk guru. Menggunakan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) boleh, menggunakan sekolah tentangga boleh, tapi guru berupaya untuk belajar. Ini saatnya guru yang belum bisa membuat soal yang harus belajar membuat soal,” ungkapnya.

(Ip)

Comment here