EDUKASIPROVINSI BENGKULU

Bengkulu Layak Jadi Rujukan Pendidikan Multikultural

DERING24.COM BENGKULU Ditengah Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Bengkulu, Program Studi Dokter Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu (Unib) melaksanakan ujian terbuka/sidang Promosi Doktor atas nama Promovendus Moch Iqbal, M.Si. pada Rabu, (20/01/2021).

Diketahui Promovendus Moch Iqbal, M.Si. salah seorang dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu yang berhasil mempertahankan Disertasinya yang berjudul ‘Praksis Pendidikan Multikultural di Sekolah Etno Religio: Studi Kasus di SMA Sint Carolus Kota Bengkulu’ pada sidang terbuka (promosi)  Rabo 20 Januari 2021, program Doktor Pendidikan, Konsentrasi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) FKIP Universitas Bengkulu.

Untuk tim penguji sendiri terdiri dari Prof Dr Wachidi M.Pd, Prof Dr Badeni MA, Dr Sarwit Sarwono M.Hum, Prof Dr Sukri Hamzah M.Pd, Prof Dr Rambat Nur Sasongko dan penguji Luar dari Universitas Sebelas Maret Solo (UNS).

Dalam ujian terbuka yang digelar tersebut, Moch Iqbal menyatakan bahwa jauh sebelum pendidikan multikultural muncul pada tahun 60-70an di Amerika akibat maraknya diskriminasi terhadap masyarakat kulit Hitam, Bengkulu dan masyarakatnya yang multikultur sudah kental dengan nilai-nilai multikultural. Masyarakat Bengkulu sangat terbuka bagi semua etnis dan agama. Hampir tidak terdengar konflik di masyarakat yang berbasis etnis maupun agama.

“Dalam kontek pendidikan, seperti di SMA Sint Carolus Kota Bengkulu, keterbukaan sekolah terhadap siswa dengan berbagai etnis dan agama sudah dipraktikan sudah lama. Bahkan sebelum masa kemerdekaan Indonesia,”ujar Dosen IAIN ini.

Ia menambahkan, bahwa sejak tahun 1934 HCS Sint Carolus telah berdiri semacam sekolah dasar, dibawah naungan Gereja Katolik Lembaga pendidikan di bawah naungan Carolus. Ia juga menyebutkan bahwa yang lebih menarik lagi adalah, pada 1 Agustus 1938 sudah dibuka sekolah kejuruan Huishoudschool (SKP) dengan asramanya dan Ibu Negara Indonesia yang I, Ibu Fatmawati juga telah menyelesaikan pendidikannya di Huishoudschool St. Carolus tersebut.

“Semua sekolah Sint Carolus Kota Bengkulu di semua level, membuka diri dari etnis dan agama hingga sekarang. Keragaman etnis dan agama adalah sejarah dan realitas yang sulit disangkal bahwa, sejak dahulu sekolah di Bengkulu ini sudah kental dengan nilai-nilai pendidikan multicultural, jadi sangat wajar bila Bengkulu layak menjadi rujukan pendidikan multikultural di Indonesia,”ujarnya.

Moch Iqbal juga menilai, bahwa Indonesia mempunyai modal yang sangat penting untuk menjadi bangsa yang besar, maju dan beradab, karena semenjak dulu, bahkan hingga sekarang mempunyai modal sosial tinggi, yaitu  nilai-nilai toleransi terhadap perbedaan dan rupa-rupa keragaman,”lanjut penjelasanya.

Moch Iqbal juga menjelasakna bahwa sejak berdirinya program S3 Pendidikan di FKIP Unib tahun 2016/2017, beliau yang juga dosen di IAIN Bengkulu adalah Doktor yang ke 8.

“Alhamdulillah pristiwa ini tentu patut kita syukuri, terkait pengembangan sumber daya manusia dilingkungan perguruan tinggi maupun masyarakat Bengkulu pada umumnya, dan kepada rekan-rekan saya semoga cepat menyusul Amin,”harapnya. (Ads)

Comment here